Mendengarkan secara Aktif


Revolusi “Digital” Industri abad ini belum lama dimulai, tapi dampak yang ditimbulkan seolah meruntuhkan tradisi yang sudah dibangun manusia selama berabad-abad. Tradisi apakah itu?

Pernahkah Anda sebegitu jengkelnya “ditelantarkan” oleh lawan bicara Anda yang asyik dengan ponselnya, tanpa segemingpun menoleh pada mulut Anda yang sudah mulai berbusa? Sebaliknya, sekalipun Anda menyimak orang lain bicara, apakah kita benar-benar mendengarkan ujaran lawan bicara kita? Jangan-jangan kita mendengar apa yang kita mau katakan, bukan apa yang dikatakan oleh orang lain? Ya, kita sudah memasuki sebuah era di mana pembicara dan pendengar sama-sama “sibuk”.

Tradisi mendengarkan (secara aktif) yang diajarkan oleh orang tua dulu mulai tergerus oleh kecanggihan teknologi. Lantas, apakah kita mesti mempersalahkan kemajuan teknologi yang pesat itu? Tidak juga! Orang pintar (baca: bijaksana) pasti memikirkan bagaimana kita berusaha meningkatkan keterampilan mendengarkan kita terus menerus.

Bukan sebuah kebetulan bahwa Tuhan menciptakan 2 telinga, lebih banyak dari mulut. Itu artinya tubuh sudah dipersiapkan untuk mendengarkan lebih banyak dari pada mulut bicara. Bahwa kenyataannya terbalik, di sinilah kita patut merenung sambil “mendengarkan” hati ini bicara. Hati? Ya ternyata mendengarkan bukan cuma tanggung jawab telinga tapi hati kita juga. Konon, mendengarkan dengan hati akan lebih luas tangkapannya dari pada sekedar mendengarkan dengan telinga. Telinga hanya mampu mendengarkan yang terkatakan, hati dapat mendengarkan bahkan yang tak terkatakan. Apalagi, sesuai kaidah komunikasi, manusia berkomunikasi lebih banyak lewat bahasa tubuhnya dibanding dengan mulutnya. Pertanyaannya, mendengarkan yang terkatakan saja sulit, apalagi harus mendengarkan yang tak terkatakan?

Mendengarkan dengan aktif adalah sebuah proses ketika pendengar dengan aktif berusaha memahami isi dan perasaan di balik ucapan dan kemudian memeriksa pada pembicara untuk mengklarifikasi apakah sudah memahami yang dimaksudkan. Mendengar adalah bentuk paling luar biasa dari pengakuan akan orang lain. Ini sebuah cara untuk menyatakan bahwa “Anda penting”. Mendengarkan itu membangun hubungan yang lebih kuat…menciptakan keinginan unuk bekerjasama dengan orang lain karena merasa diterima dan diakui. Mendengarkan akan membuat Anda merasa didengar. ”Pahami dulu sebelum minta dipahami”, begitu kata Stephen Covey. Mendengarkan itu menciptakan penerimaan dan keterbukaan satu sama lain, sambil menunjukkan pesan bahwa “saya tidak menghakimi Anda”. Mendengarkan itu mengarahkan pada pembelajaran, pada keterbukaan yang mendorong pengembangan pribadi. Mendengarkan juga mengurangi stres dan ketegangan, meminimalkan kebingungan dan kesalahpahaman; menghilangkan stres dan ketegangan yang diakibatkan karena kedua hal tersebut. Mendengarkan jadi sangat PENTING dalam menyelesaikan konflik. Banyak konflik muncul karena keinginan untuk didengarkan tak terpenuhi.

Mendengarkan itu ternyata sebuah skill yang harus dilatih. Mendengarkan itu lebih dari sekedar mendengar. Mari kita sekarang lakukan test sejauh mana keterampilan Anda dalam hal mendengarkan. Siapkan seember air bersih. Kemudian benamkan kepala Anda di dalam ember tersebut. Sudah? Nah, seberapa kuat Anda berada dalam air tersebut, itulah waktu terlama Anda bertahan ketika mendengarkan orang lain. Ada yang 5 menit? Ada yang 3 menit? Atau hanya mampu 5 detik saja?

Apa yang Anda rasakan ketika kepala Anda terbenam dalam air tersebut? Pastinya Anda menjadi gelisah dan ingin cepat-cepat keluar dari benaman air tersebut bukan? Itu adalah gambaran ketika kita mendengarkan orang lain bicara. Kita ingin cepat-cepat “menutup” mulut lawan bicara kita agar kita dapat memulai pembicaraan kita. Faktanya adalah bukan soal berapa lama kita mampu mendengarkan orang lain, tapi seberapa “sabar” dan dalam kita mendengarkan orang lain berbicara.

Tidak sedikit memang penghalang dalam mendengarkan. Perbedaan persepsi, bahasa, kekayaan semantik tiap orang, ketertarikan masing-masing pribadi dalam percakapan, emosi, lingkungan – suara, harapan yang dibawa oleh pendengar dan pembicara, panjang pendeknya kalimat, jarak pandang, masalah indra pendengaran, kecepatan berpikir adalah sebagian penghalang dalam kita mendengarkan orang lain. Belum lagi hambatan dalam mendengarkan secara efektif. Kenakalan asumsi, kesukaan mengkritik, terlalu bersemangat, hanya mendengar yang disukai. Keinginan merangkum semuanya, menghindari pesan teknis, reaksi berlebihan terhadap kata tertentu, melamun. Menyadari hambatan dan penghalang tersebut di atas bisa jadi menjadi jalan masuk bagi hasrat kita untuk meningkatkan keterampilan mendengarkan kita.

Sekurang-kurangnya ada 4 kualitas utama yang harus dimiliki oleh seorang pendengar aktif . Sikap empati: Kemauan untuk diarahkan oleh orang lain. Sikap keterbukaan dalam arti tidak menutup diri. Sikapa memahami, yaitu kemauan untuk membayangkan posisi orang lain. “Bagaimana rasanya jika aku di posisi dia dan tidak didengarkan?”. Sikap tidak menghakimi dan tidak melulu mengkritik. Terakhir adalah sikap ingin tahu, yaitu kemauan untuk belajar

“Ketika Anda berbicara, Anda mengulangi apa yang Anda sudah ketahui; Ketika Anda mendengarkan, Anda sering mempelajari hal baru.” (Jared Spark). Nah, sebagai pembelajar yang sejati, adalah pilihan Anda untuk terus berbicara atau Mendengarkan lebih aktif?

www.mwsindonesia.com

rujukan: Modul Active Listening-modul dari MWS International.

hadiri MWS public workshop bersama Ahmad Madu, ELT; “Communication Clearly dan Active Listening” tanggal 23 Mei 2017.

![endif]--


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags