7 Training Trends


Membuka Tabir Masa Depan Training!

To be successful in the future, leaders must to learn to train, guide, and motivate younger workers, not only by speaking their language, but also by creating games that these digital natives will choose to play (The Herman Group, 2005)

Harus kita akui, ada perubahan yang fantastis dalam dunia training dewasa ini. Dulu, training yang dianggap sebagai ongkos dan pemborosan, mulai dianggap sebagai strategi bisnis yang penting. Bahkan, seorang rekan saya yang mendirikan sebuah sekolah, trainer center serta seminar organizer di suatu daerah, menceritakan bagaimana 5 tahun yang lalu ia ditertawakan oleh rekannya. “Dengan gratis aja orang dikasih ilmu, nggak ada yang mau datang. Apalagi disuruh membayar?” Itulah yang dikatakan oleh orang-orang sekelilingnya menertawakan idenya membangun training center. Sekarang, bisnisnya telah berkembang dan training centernya menjadi salah satu lembaga yang paling berkembang di wilayahnya, di daerah tengah Sumatera. Kini, tak ada lagi yang berani menertawakannya.

Rasanya, tidak berlebih jika dikatakan dunia training telah mengalami suatu proses metamorfosis yang semakin indah, menarik sekaligus sangat menantang. Bagaimana tidak, saat ini, beberapa perusahaan bahkan berani mengalokasikan 5,10 hingga 20% dari netsales mereka untuk kepentingan meningkatkan pengetahuan karyawannya.

Lantas, yang jadi pertanyaan menarik: seperti apakah gambaran dunia training ini di masa depan? Tulisan kali ini akan membahas intisari dari berbagai tulisan, hasil analisa serta pendapat beberapa pakar soal trend training yang saya rangkum. Dan, inilah ke-7 trend dunia training di era millenium baru ini:

  1. Edutainment akan semakin digemari. Memang, hiburan seringkali merupakan ‘bumbu’ serta efek samping yang positif dari pembelajaran yang direncanakan dengan baik. Tapi nyatanya, harus diakui, peserta seminar atau training kadang lebih senang dihibur daripada diajari. Akibatnya, hampir semua training di masa depan akan dikemas dalam bentuk hiburan yang semakin menakjubkan. Training-training akan semakin mirip dengan acara konser, atau panggung hiburan. Akan ada waktu training, tapi ada pula jeda hiburan. Group band, lawakan, sulap atau acara dance yang menyelingi program training menjadi kolaborasi pembelajaran yang semakin ‘lumrah’ di masa depan. Coba perhatikan bagaimana acara Anthony Robbins, dimana pernah ia muncul dari atas panggung dengan meluncur dari tali. Ataupun, Jim Dornan dari Nerwork 21 yang muncul ke panggung, keluar dari helikopter! Trainer dan pembicara akan menjadi mirip seperti seorang artis. Oleh karena itu pun tuntutan bahwa seorang trainer harus mampu menghibur, melawak, memberikan point-point pengajaran tapi entertaining, akan semakin tingggi di masa depan. Siapkah Anda?

  2. Makin disukai training yang pendek durasinya, tapi yang berkesinambungan. Kebanyakan peserta pelatihan adalah para eksekutif, karyawan atau pekerja yang ingin mendapatkan ‘continuing education’ (pendidikan lanjutan). Namun, ‘waktu’ menjadi komoditi yang mahal dan langka di masa depan. Oleh karena itu waktu pelatihan akan semakin berkurang. Peserta akan semakin kurang ‘affordable’ untuk training dalam jangka waktu yang panjang, secara terus-menerus. Saya masih ingat ketika dahulu untuk mengambil level practitioner NLP dibutuhkan kurang lebih 2 bulan. Saat ini, beberapa lembaga international sudah memberikan dalam waktu 10 hari bahkan ada yang hanya seminggu. Pelatihan akan semakin pendek waktunya, dari 3 hari menjadi 2 hari. Training sehari disingkat menjadi setangah hari atau 3 jam, namun dengan isi yang kurang lebih sama, makin padat. Memang kurangnya kesempatan latihan menjadi akibat negatif dari waktu yang dikurangi ini. Untuk itulah trainer dituntut mempersiapkan PR ataupun tips-tips yang bisa dipraktekkan di tempat kerja ataupun untuk latihan di rumah, setelah mengikuti training.

  3. Training dengan tips dan aplikasi semakin disukai. Inilah yang perlu diperhatikan para trainer di masa depan. Orang-orang akan membanjiri ruangan pelatihan dan seminar bukan untuk sekedar mendapatkan informasi, tapi mencari IDE! Soal informasi, mudah! Saat ini sudah banyak majalah, buku, siaran televisi ataupun internet yang dengan mudah menyediakan informasi berton-ton yang diperlukan. Misalkan saja, cobalah Anda ketik “success” di search engine di internet. Akan ada ratusan juta website yang muncul. Tapi, masalahnya bagaimana mendapatkan ide untuk sukses yang mudah dipahami dan dipraktekkan. Kesibukan dan berbagai kerepotan di masa depan membuat orang tidak punya terlalu banyak waktu untuk menyaring dan memilah-milah informasi untuk menjadi ide yang baik. Oleh karenanya, orang mengandalkan training, seminar untuk memperoleh ide yang bisa mereka praktekkan. Karena itulah, di masa depan orang membeli tiket seminar dan training dengan harapan akan mendapatkan tips aplikatif yang bisa mereka bawa pulang.

  4. Peserta akan semakin senang dengan keterlibatan emosi dalam belajar. Ingat dengan prinsip penting dalam belajar? Informasi, plus emosi hasilnya MEMORI! Ada 4 emosi dasar yang diketahui berperan penting dalam memori yang terkait dengan pembelajaran, yakni: senang, sedih (haru), takut serta excited (sulit diterjemahkan, tapi kurang lebih artinya, bersemangat)! Model pertama, tak akan mengherankan suatu pelatihan dikenang karena kelucuannya, seperti seminar ‘Service’ yang diberikan Ron Kaufman, yang kini berdomisili di Singapura. Ataupun, peserta akan terkenang dengan seminar yang menegangkan yang mengajarkan pola disiplin gaya militeristik. Atau, dengan gaya model perploncoan dulu dari beberapa lembaga training yang memang menggunakan model ketegangan dan ketakutan sebagai bagian dari proses belajarnya. Hasilnya, dibenci di awal, tapi terus dikenang. Itulah yang biasa terjadi dengan model kedua. Model ketiga adalah yang memberikan rasa sedih (haru). Biasanya, model pelatihan yang bercampur dengan unsur spiritual atau ‘inner journey’ membawa pesertanya ke suasana emosi ini. Terakhir, yang juga digemari adalah model keempat yakni yang menimbulkan emosi excited. Setelah selesai, ibaratnya peserta keluar dengan perasaan bahkan akan sanggup memindahkan gunung! Walaupun efek emosi ini banyak dikritik hanya sesaat, nyatanya banyak orang yang memiliki kenangan yang baik dengan pelatihnan dan training semacam ini. Bahkan, tak segan-segan mereka merekomendasikan training yang menghasilkan emosi semacam ini kepada rekan-rekannya. Jelas, training yang menciptakan suasana perasaan ini akan semakin dicari di masa depan

  5. Trainer dari kalangan praktisi akan semakin dicari. Inilah berita bagus bagi para praktisi dan prfesional. Berusahalah untuk semakin expert dan meraih prestasi emas di bidang Anda. Hal itu akan sangat penting bagi kredensial Anda. Dan ketika Anda pensiun nanti, nilai Anda akan semakin berharga di dunia pelatihan. Saat ini, banyak perusahaan yang mulai mencari para profesional maupun praktisi yang mengenal bidang industrinya untuk diminta berbicara kepada para karyawannnya. Trend ini akan semakin nyata lagi di masa depan. Misalkan, para psikolog mulai banyak diminta berbicara dalam program coaching dan counseling perusahaan. Para mantan top sales diminta berbicara di pertemuan para agen asuransi. Para mantan direktur maupun mantan CEO diminta memberikan kelas leadership untuk para senior manager. Jika dahulu, para trainer dan pengajar kebanyakan adalah mereka yang memang dari dulu mempersiapkan diri ataupun dilatih khusus sebagai faculty member di perusahaan, kini para trainer ini akan mempunyai latar pengalaman yang beragam. Kebanyakan, akan muncul dari kalangan praktisi.

  6. Think globally, act locally, touch individually. Inilah trend berikutnya. Perusahaan-perusahaan akan semakin cepat ingin segera menerapkan serta mendapatkan gagasan-gagasan world class untuk diimplementasikan. Karena itu, tak heran tatkala ide TQM, Balanced Scorecard, ISO, Six Sigma ataupun Blue Ocean Strategy mengemuka, segera banyak perusahaan ingin memberikan training ini di perusahaan mereka. Termasuk pula ide-ide pengembangan diri model EQ, AQ, SQ, NLP, hypnosis muncul, merekapun segera ingin mengimplementasikannya. Namun, trend yang muncul, mereka ingin agar gagasan global ini bisa dibuat menjadi sesuatu yang ‘customized’ bagi perusahaan ini. Trainer pun dituntut menyesuaikan konsep global ini dengan jargon dan kebiasaan di perusahaan dan industri mereka. Dan bahkan lebih jauh lagi, jika ada permasalahan serta kasus spesifik yang menyangkut unit atau individu tertentu, trainer akan dituntut untuk membantu. Tak heran jika, pelatihan dimasa depan, banyak yang berlanjut dengan program counseling, coaching ataupun konsultansi periodik yang diberikan oleh si trainer kepada individu maupun unit kerja agar masalah mereka teratasi dan performa mereka meningkat. Di masa depan, peran trainer bukan hanya mengajar lantas selesai tapi juga akan menjadi seorang coach, counselor dan juga problem solver!

  7. Akhirnya, kita tak boleh lupa training di masa depan akan semakin dekat dengan teknologi.High tech, high touch. Memang hingga saat ini, pembelajaran dengan teknologi belum akan mampu mengganti suasana training secara interaktif di kelas. Namun, tuntutan untuk menggunakan teknologi, khususnya multimedia, akan semakin tinggi di masa depan. Di dalam kelas, berbagai perpaduan multimedia, audio visual yang menarik, selide presentasi yang didukung program-program yang semakin canggih akan semakin berkembang. Selain itu, pembelajaran di kelas akan semakin banyak didukung dengan game interaktif komputer (Computer Based Training), ataupun simulasi akan banyak dikembangkan sejalan dengan perkembangan teknologi. Di luar ruang kelas, teknologi untuk mendukung pembelajaran pun akan semakin tumbuh berkembang. Saat inipun, sudah banyak perusahaan yang mulai memproduksi VCD maupun DVD modul-modul manajemen, bisnis dll untuk mengganti sesi-sesi di kelas. Simulasi ataupun e-learning dengan kesempatan berinteraksi dengan para trainer-trainer virtual, akan semakin ditemui. Alasannya perkembangan trend ini? Selain masalah keterbatasan waktu, muncul saat ini generasi yang sangat ‘commute’ yang ingin bisa mengakses modul belajar dimanapun. Dan hal ini menjadikan teknologi untuk belajar akan terus berkembang di masa depan.

Dengan memahami ke-7 trend dunia pelatihan di masa depan, apa pentingnya bagi kita sebagai trainer? Minimal, kita sebagai trainer, saatnyalah kita mulai harus mempersiapkan kompetensi kita agar selalu sesuai dengan perubahan jaman yang terjadi, khususnya di bidang pelatihan. Sebagai nasihat terakhir, saya kutip dari Jim Rohn, salah seorang filsuf manajemen abad ini, “And if I may be so bold to offer my last piece of advice for someone needing to make changes in their life to adjust with the new world demand – If you don’t like how things are, change it! You’re not a tree. You have the ability to totally transform every area in your life – and it all begins with your very own power of choice!”


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
  • Facebook - White Circle
  • Twitter - White Circle
  • LinkedIn - White Circle

© 2016 by rowenkuro