Pelajaran Pentingnya Mengungkapkan Kebenaran Bagi Trainer! (Versi Bahasa Indonesia)


(Pelajaran Pentingnya Mengungkapkan Kebenaran Bagi Trainer! Versi Bahasa Indonesia)

Hari ini tanggal 15 April 2015, kami para ELT / PLT disegarkan kembali dengan kehadiran pak Didi (Retmono Adi) selaku trainer “psikodrama” yang membuat kami tercengang oleh pembelajarannya.

Setelah pemanasan, kami memainkan peran yang pertama, terus terang saya salah menginterpretasikan hal yang disampaikan fasilitator yaitu kami diperintahkan untuk memberikan maaf kepada orang yang pernah menyakiti hati kami dengan cara kita memanggil seorang rekan sebagai representative atau perwakilan dari orang ingin kita maafkan atau ampuni bisa berupa kakak, adik, rekan kerja, atau yang lainnya diluar peserta.

Namun apa yang saya lakukan?

Saya malah memilih rekan ELT yang pernah satu kantor dengan saya sebut saja namanya “C”. Kami belum pernah mengatakan perpisahan atau saling memaafkan sekitar 5 tahun yang lalu….

Menarik, saya tidak sedang meminta dia sedang memerankan sesuatu. Dia menjadi dirinya sendiri demikian juga saya. Ketika bergantian peran beberapa kali, saya baru menyadari kekeliruan saya pada waktu orang lain meminta rekan yang lain untuk menjadi istri, orang tua, adik , bahkan saya juga ditunjuk mewakili menjadi seorang rekan bisnis yang pernah mengkhianati bisnis teman saya.

Saya tidak begitu mengenal rekan ini, bahkan beberapa detik saya merasakan ketidaknyamanan menjadi seorang pengkhianat, namun karena saya harus memerankan total peran “pengkhianat” ini dan berubah menjadi manusia seutuhnya yaitu saling memaafkan, maka pada akhirnya tujuan mulia itu yang mengalahkan ketidaknyamanan saya dan pada akhir sesi peran tersebut saya dengan mantap mengucapkan sebuah kata “Terima kasih” atas tindakan yang tidak pernah saya alami, rasakan atau lakukan demi membantu sebuah proses pemulihan bagi rekan saya.

Itulah psikodrama.

Selesai sesi peran, kami duduk melingkar dan fasilitator meminta kami untuk menceritakan tentang perasaan kami satu per satu dan proses “peran” yang kami lakukan.

Tiba pada giliran saya, saya mengatakan persis seperti yang saya lakukan dan rasakan. Saya mengatakan bahwa rekan saya menjadi diri dia sendiri dan saya menjadi diri saya, karena memang saya merasa kurang enak kalau belum saling memaafkan dan berpisah baik-baik sekitar lima tahun yang lalu.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah keberanian saya mengatakan yang sesungguhnya. Bagi kita seorang trainer, tidak mudah bagi kita mengatakan bahwa kita salah menginterpretasi karena kita merasa diri superior sebagai trainer, yang pasti orang yang paling tahu segalanya dibandingkan audiens atau orang lain dalam sebuah ruang pelatihan.

Persis juga seperti yang dikatakan pak Didi, fasilitator kita, kita dapat bertukar peran. Kita yang biasanya menjadi trainer, dalam meeting ELT/PLT kita dapat menikmati peran kita sebagai seorang peserta sehingga kita juga dapat menyelami masing-masing peran.

Lewat pembelajaran ini, ada beberapa poin yang saya dapatkan dalam psikodrama ini.

Pertama, walaupun saya salah menginterpretasikan pesan dari fasilitator, malah saya dapat berperan menjadi diri saya sendiri dan rekan saya menjadi dirinya sendiri dan kami pun dapat menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikan lima tahun yang lalu. Pada akhir sesi peran kami berjabat tangan dan benar-benar saling memaafkan satu sama lain. Tidak saja bersifat spontan, suatu hal yang diimajinasikan benar-benar terjadi dan kami mendapatkan sebuah tujuan, menyelesaikan sebuah hubungan yang kurang harmonis.

Kedua, saya benar-benar jujur mengatakan perasaan saya ketika pada sesi sharing. Saya sesungguhnya dapat memilih untuk mengatakan yang lain pada sesi sharing, dengan mengatakan rekan partner saya itu sebagai orang lain, adik atau kakak saya. Tidak ada yang tahu, tetapi di sinilah letak kejujurannya. Lebih baik anda berkata terus terang bahwa anda salah mengintepretasikan dan rekan saya itu berperan jadi dirinya sendiri, bukan orang lain. Dengan demikian, saya tidak saja mendapatkan kelegaan setelah bermain psikodrama tadi, saya dan rekan saya saling memaafkan dan sangat berdampak bagi diri saya secara pribadi.

Ketiga, saya mendapatkan afirmasi dari permainan psikodrama bahwa sangat penting bagi kita berbicara jujur, berperasaan normal, spontan dan tidak dibuat-buat terutama ketika kita juga berperan sebagai trainer. Sebagai trainer, memang banyak yang berkomentar bahwa kami (para lulusan ELT/PLT) berbeda dengan trainer lainnya. Selain kami banyak memberikan banyak variasi dalam pelatihan kami, memberikan contoh dan berdampak bagi peserta training bahkan tidak kurang kami juga menceritakan pengalaman kami pribadi yang mendukung retensi pembelajaran dari para peserta pelatihan. Itu saja sudah membuat mereka tercengang, apalagi ditambah dengan teknik psikodrama.

Selamat mencoba. Dan saya mengucapkan terima kasih khusus pada Fasilitator dan MWS.

Surya Rachmannuh, PLT.

Surya is a Professional Licensed Trainer from MWS International. Certifited Problem Solving and Decision Making from Kepner Tregoe, 4DX and 7 Habit Licensed Trainer, Leadership from Dale Carnegie, a Million Leadership Mandate from John C. Maxwell. Saat ini Surya melayani sebagai Internal Trainer (Grustler) disebuah perusahaan FMCG Indonesia, juga sebagai Certified Auditor / Assessor from SGS for Quality Management. You can contact him at 0858 8228 0303 or BB 20F0 8757.


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags