Trainer Bunglon!


Sebagai seorang Trainer atau pengajar kita tentunya sudah pernah bertemu dengan audiens yang bermacam-macam, dari anak-anak kecil hingga direksi perusahaan-perusahaan besar. Namun kadang secara tidak sadar kita membawakan sesi training kita secara “AutoPilot”, alias otomatis.

Hal ini sebenarnya lumrah terjadi, karena memang untuk beradaptasi dengan lingkungan baru itu membutuhkan energy yang tidak sedikit pula, sehingga kita terbawa untuk menggunakan gaya kita sendiri yang tidak memerlukan energy untuk beradaptasi dengan lingkungan ataupun audiens kita.

Menurut Albert Einstein “Hanya orang-oranggila yang mengharapkan hasil berbeda tetapi menggunakancara-cara yang sama”, kita ingin para audiens kita terinspirasi dengan pengajaran kita, tapi kita menggunakan cara yang sama kepada semua audiens, ya kalau itu yang kita lakukan, itu sama dengan kita…..?

Pengalaman saya mengajar kurang lebih 6 tahun ini membawa saya ke sebuah kesimpulan yang mungkin semua kita juga menyadarinya, bahwa kita sebagai pengajar harus beradaptasi dengan audiens kita, bukan sebaliknya!

Saya juga belajar dari rekan-rekan trainer lain yang saya kenal. Pernah ketika saya mengajar untuk anak-anak muda, rekan trainer saya rela pergi ke mall, masuk toko baju khas anak muda dan membelanjakan beberapa baju dan aksesoris khas anak muda. Saya kenal dengan teman saya ini, beliau adalah seorang trainer senior yang menurut saya sulit baginya untuk bergaya seperti anak muda. Tapi ketika beliau tampil didepan anak-anak muda tersebut gayanya sudah 180 derajat berbeda dari biasanya. Biasanya beliau sangat formal, dengan gaya rambut yang sangat rapi, dan penampilan yang elegan.

Namun kali itu berbeda! beliau memakai kaos khas anak muda, dengan jeans, dan tidak lupa ada gelang-gelang dan “rantai” juga beliau kenakan. Tatanan rambutpun dirombak untuk mengikuti gaya anak muda, tetapi tidak hanya pada tampilannya saya yang khas anak muda, tetapi ketika membawakan materipun khas anak muda, contoh nya materi dicampur dengan gaya-gaya standup comedi yang sedang tren dikalangan muda saat ini. dan tentu saja hasil yang didapat banyak dari anak muda tersebut yang terinspirasi, terbukti setelah training tersebut banyak dari mereka yang “Curhat” justru dengan rekan saya tersebut dibanding dengan orang tuanya.

Beda lagi dengan rekan saya yang lain, beliau masih tergolong muda, dan memang spesialisasi nya adalah mengajar untuk kalangan anak muda. Tapi ketika dihadapkan dengan audiens yang sudah senior, maka tampilan dan penampilan rekan saya pun jauh berbeda dari biasanya. Biasanya beliau tampil dengan gaya casual, dan rada-rada “lebay” jika membawakan materi didepan anak muda.

Kalau pengalaman saya tidak jauh beda dengan mereka, pernah saya memberikan training untuk petinggi-petinggi sebuah Bank ternama di Indonesia, memang tampilan saya biasanya juga sudah formal. Tetapi untuk mendukung penampilan saya, saya menyempatkan diri untuk ke toko kaca mata dan membeli sebuah kaca mata untuk saya pakai ketika training tersebut, memang kaca mata tersebut tidak ada isinya alias Kosong, tetapi dengan saya memakai kaca mata tersebut membuat penilaian orang terhadap saya meningkat. Karena kesan orang terhadap orang yang memakai kaca mata itu adalah orang pintar.

So apakah rekan-rekan pengajar semua sudah memiliki keahlian seekor bunglon? Yang mampu menyesuaikan warna kulitnya seperti warna sekitarnya? Atau masih menjadi Dinosaurus, yang dimanapun berada tetap dengan gaya tampilan dan penampilannya?

Deon Surya.

Professional Licensed Trainer MWS International, EQ Facilitator Six Second International


Featured Posts
Recent Posts