5 Hukum Utama Adult Learning ala Robert Pike


You will neither engage nor inspire your adult audience with too much information

-Dorothy Leeds, author “Power Speak”

Baru-baru ini, dalam program radio saya di SmartFM, kami membahas topik “Kecerdasan Emosional bagi Para Pengajar”. Dalam acara talk interaktif Smart Emotion ini, saya menerima banyak sms serta email yang ‘pro’ dengan apa yang saya bawakan. Namun, ternyata, ada pula yang tak setuju. Masalahnya, topik yang saya bawakan menyinggung pentingnya unsur emosi senang dan variasi metode dalam pengajaran. Seorang trainer K3 yang mengajar soal safety di perusahaan mengatakan, “Pak, safety adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat main-main. Tak mungkin diajari dengan gaya guyonan. Lagipula, saya ingin mereka dapat informasi sebanyak-banyaknya, biar paham”. Sementara itu, seorang guru matematika SMU juga mengatakan, “Matematika itu sesuatu yang serius. Saya tidak ingin siswa saya bermain-main saat saya mengajar”.

Memang sah-sah saja, setiap pengajar memiliki nilai-nilai yang berbeda dalam metode penyampaian materinya. Namun, perlu diingat bahwa pola pembelajaran telah berubah dengan dahsyat. Bukti-bukti menunjukkan guru ataupun trainer yang direktif, pola komunikasinya searah, kurang interaksi dan hanya menggunakan metode pengajaran lecturing, akhirnya semakin kurang populer dan ditinggalkan. Jika tidak percaya, cobalah saksikan seminar, atau training yang pesertanya membludak. Program tersebut selalu penuh dibanjiri peserta karena para trainernya yang komunikatif, interaktif, juga fun! Prinsip yang sama perlu diulangi lagi disini: orang tidak hanya haus ilmu, tapi juga haus hiburan. Mengapa tidak menggabungkan keduanya? Itulah yang kini dicari!

Menyangkut pentingnya gabungan unsur belajar dan bermain pada pengajaran orang dewasa, kali ini, saya ingin membicarakan pemikiran dari serorang trainer dunia yakni Robert ‘Bob’ Pike, penulis buku laris “Creative Training Techniques Handbook”. Langsung saja, inilah kelima hukum adult learning dari Bob Pike.

Hukum Pertama: “Adults are Babies with Big Bodies”

(Orang Dewasa adalah Bayi dengan Badan Besar)

Kajian Analisis Transaksional dalam psikologi mengatakan bahwa di dalam diri setiap orang terdapat tiga bagian kepribadian (ego state) yang kita bawa hingga akhir hayat, yakni: anak-anak, dewasa dan orang tua. Menariknya, selalu ada bagian anak-anak yang selalu menuntut diperhatikan. Bagian inilah yang sebenarnya paling rewel sekaligus juga paling mengganggu jika tidak terpenuhi keinginannya. Oleh karenanya, menggali unsur “fun” dalam pembelajaran merupakan hal yang wajib apabila kita tidak ingin peserta kita ‘ZZZZZZZ’ di kelas. Coba perhatikan karakteristik bayi:

  1. suka diperhatikan,

  2. kadang sangat berorientasi pada dirinya sendiri,

  3. lama perhatiannya terbatas,

  4. suka tantangan,

  5. bisa sangat rewel jika kebutuhannya tidak terpenuhi.

Dengan demikian, jika kita tahu kerakteristik bayi, maka inilah tips-tipsnya:

  1. Memberikan perhatian secara individual merupakan kewajiban dalam proses training. Bukankah setiap orang ingin dianggap ‘special’?

  2. Karena adult learning rada ‘egoistik’, maka mereka perlu dihargai pengalamannya dan diajak bicara sesuai dengan bidangnya. Mereka suka dengan orang yang mengerti dengan industri kerjanya, bidang kerjanya, masalahnya.

  3. Merekapun punya perhatian yang terbatas sehingga perlu dibuat stimulasi terus-menerus agar retensi di kelas tetap terjadi.

  4. Selain itu, beri tantangan dengan pertanyaan, kasus atau tingkat kesulitan yang menantang imajinasi maupun kemampuan mereka dan akhirnya,

  5. Jelaskan selalu AMBAK (Apa Manfaatnya BagiKu) dari materi yang kita sampaikan. Adult Learner, senang dengan materi yang relevan dan bermanfaat baginya.

Hukum Kedua: People Don’t Argue with Their Own Data

(Orang Tidak ada Berargumen dengan Datanya Sendiri)

Hati-hatilah jika Anda ingin menyajikan suatu fakta. Jika Anda sebagai trainer memahami faktanya, belum tentu peserta Anda akan setuju. Masalahnya, data itu adalah data yang berasal dari Anda sebagai trainernya. Ada tips sederhana disini. Salah satunya, membuat daftar fakta dan list dulu dari opini peserta Anda. Ini merupakan cara aman menghindari resistensi. Peserta tidak mungkin menolak daftar pernyataan ataupun masalah, yang mereka buat sendiri. Yang menarik, jika data itu datang dari peserta sendiri, rata-rata hampir 80% data ternyata sudah ter’cover’ ndari materi yang ingin disampaikan. Misalkan, ketika mengajar program “Service with Heart”,saya mengajak peserta membuat daftar kriteria pelayanan ‘surga’ dan pelayanan ‘neraka’ yang pernah mereka temui. Rata-rata, nyaris 80% apa yang saya ingin bahas, semuanya telah didaftarkan. Jadi, tinggal sisa 20% yang perlu ditambahkan. Realita juga menunjukkan bahwa jauh lebih mudah bagi mereka untuk menerima fakta jika data maupun fakta yang ada oleh karena asalnya dari mereka sendiri. Yang menarik, mereka tidak akan menolak saat materi dikaitkan kembali dengan daftar yang telah mereka buat.

Hukum ketiga: Learning is Directly Proportional to the Amount of Fun You Have

(Pembelajaran Berbanding Lurus dengan Kesenangan di Kelas)

Menjadikan kelas yang menyenangkan bukan berarti kita konyol dan lucu seperti seperti Komeng, Ulfa, atau grupnya Tora Sudiro. Bahkan dengan keterlibatan dan partisipasi aktif dari pesertapun, kelas bisa menjadi amat menyenangkan. Perhatikan ilustrasi gambar yang dibuat oleh rekan trainer kami di HR Excellency, Max Sandy, tentang pentingnya unsur fun di kelas. Intinya, atmosfir belajar yang menyenangkan akan lebih membantu peserta untuk membuka dirinya terhadap materi training.

“When it’s fun, people will open to pay attention. And attention is the beginning of retention”

Rasa senang pun bisa tercipta melalui energi dan semangat terhadap materi yang kita bawakan. Dan jangan lupa, humor pun dapat mengurangi ketegangan dan kejenuhan selama proses pembelajaran. Jadikan itu sebagai bumbu penyedap training Anda!

Hukum keempat: Learning has not Taken Place Until Behavior has Changed

(Pembelajaran belumlah terjadi sebelum adanya perubahan perilaku)

Di dalam training, ingatlah prinsip ini: “bukan apa yang Anda ketahui yang penting, tapi apa yang Anda lakukan dari yang Anda ketahui itulah yang penting”. Itulah sebabnya mengapa tujuan utama dari proses training bukanlah menghabiskan materi dan menyampaikan sebanyak-banyaknya materi, tetapi ingin memastikan para peserta punya kesempatan untuk melatih dan menggunakan apa yang telah dipelajarinya. Bahkan, penulis CS Lewis mengatakan, “Manusia dengan pengalaman akan bersuara lebih kencang daripada manusia yang hanya punya argumen saja”. Jika memungkinkan luangkan waktu dan beri kesempatan kepada para peserta untuk mengaplikasikan dalam bentuk: role play, studi kasus, on the job training, atau, jika memungkinkan, follow up kepada atasan untuk memastikan adanya aplikasi di lapangan.

Hukum Terakhir atau Hukum Kelima: Fu Yu, WuYu, Wzu Tu Yu

Bunyi hukum kelima agak lucu. Tapi terjemahannya kurang lebih adalah: kalau ayah bisa dan ibupun bisa, belum berarti si anak pasti bisa pula. Jika si trainer bisa melakukannya. Jika peserta sudah bisa melakukannya. Apa sudah cukup sampai disana? Ternyata belum. Tugas trainer barulah dapat dikatakan selesai, menurut Bob Pike, apabila yang belajarpun sudah bisa mentranferskan inti pemahamannya yang benar kepada orang lain, sehingga orang lainpun jadi paham.

Dengan kelima hukum utama adult learning dari Bob Pike ini maka bisa disimpulkan secara sederhana: para peserta training adalah ‘bayi’ yang makin manja dengan kebutuhan kualitas training yang semakin meningkat. Bayangkan, menurut Dorothy Leeds dalam buku ‘Power Speak’-nya: belasan tahun lalu, rentang perhatian rata-rata orang dewasa adalah 3.5 menit, sekerang berkurang hingga 2.5 menit! Hal ini memperjelas tantangan kita sebagai trainer. Artinya, jika setelah 2.5 menit kita tidak menyajikan sesuatu yang menarik, membangkitkan minat atau merubah dengan visual atau cerita yang lain, pikiran mereka mungkin melayang ke tempat lain. Itulah yang dipahami oleh siaran-siaran TV dengan stimulasi visual berubah dan menarik supaya penontonnya tidak pindah ke pilihan channel lain yang semakin banyak. Dengan demikian, jika kita tidak ingin pikiran peserta kita pindah ke ‘channel’ lain, pastikan kita punya visual, cerita, fakta atau penyajian yang sungguh-sungguh menarik atensi mereka. Ingat selalu, atensi adalah retensi. Happy training!


Featured Posts
Recent Posts
Archive