“Being fun with your problem at work, you are becoming empowered employee!”


“Being fun with your problem at work, you are becoming empowered employee!”

Dibawakan dengan fun dan bahasa yang membumi serta antusias oleh bp. Soegento Tan PLT, Mini Workshop Series edisi Empowered Employee 26 Pebruari 2014 sukses digelar di Jakarta. Dihadiri oleh 25 peserta, workshop ini menarik karena menjawab seputar problem-problem di tempat kerja.

“Fun aja dengan problem-problem itu, Anda menjadi karyawan yang berdaya.” Kira-kira begitu kesimpulan singkat yang dapat diambil dari workshop berdurasi 4 jam itu. Problem di tempat kerja merupakan fakta yang tak dapat diingkari, justru karena problem terbesar adalah “no problem”. Problem-problem itu sebenarnya merupakan kesempatan untuk” naik kelas” di tempat kita bekerja. Karena itu, bersikap wajar terhadap masalah dan “dibawa senang” merupakan langkah yang memberdayakan kita sebagai karyawan. Problem itu sendiri berasal dari bahasa Yunani (pro: maju, ballein: bererak) yang berarti bergerak maju. Orang yang berteman baik dengan problem adalah satu syarat untuk dapat bergerak maju.

Dalam sessi pendek ini beberapa gagasan penting yang disampaikan oleh bp. Soegeanto ini memberi paradigma baru mengenai betapa berdayanya profesi karyawan itu. “Mau menjadi sekedar tukang masak atau menjadi master chef?” analogi ini untuk mengajak para karyawan untuk menjadi karyawan yang master di bidangnya daripada menjadi karyawan yang biasa-biasa saja. Seorang master pastinya punya tanggung jawab sekaligus sangat menikmati pekerjaannya, dibanding tukang kerja yang Cuma mengharap imbalan.

Relax pada saat kita bekerja bersama dengan segudang masalah adalah tips bagus yang disampaikan oleh bp. Soegeanto Tan ketika peserta diajak untuk berdiri dengan satu kaki dan mata tertutup. Dari semua peserta, hanya satu yang bertahan lama. Dalam bekerja kita bukan hanya melihat dengan mata seperti imbalan, perhitungan waktu, tapi juga dengan hati nurani untuk melihat sesuatu yang mulia dalam pekerjaan kita. Karena itu mulailah memberdayakan diri sendiri dengan bertanya “siapa saya sebenarnya?”, “ apa yang saya inginkan?”,”Apa yang dapat saya lakukan?” dan “apa yang perlu saya lakukan?” Menjawab pertanyaan itu, kita akan melihat pekerjaan kita dengan hati bukan cuma dengan mata. Dengan demikian potensi yang tertidur dalam bawah sadar akan dibangunkan untuk maksimal dalam pekerjaan kita.

Menjadi karyawan yang berdaya adalah mampu membangun kepercayaan diri sendiri. Bagaimana caranya? “Rayakan kesuksesesanmu sekecil apapun. Milikilah rasa humor, karena terlalu serius (kaku) Anda akan tampak bodoh. Bersikaplah rendah hati untuk menerima masukan/kritikan dari orang-orang yang mencintai Anda.” Dengan melakukan tips itu dengan sendirinya kepercayaan diri terbangun dan semakin memberdayakan potensi-potensi yang tinggal menunggu waktu untuk teraktualisasi.

Terkadang sebagai karyawan kita juga perlu “mencuri start” dengan belajar melihat secara jelas pekerjaan, kebiasaan dari orang yang lebih tinggi posisinya dari kita, sehingga ketika suatu saat berada pada posisi itu, kita sudah siap sekurang-kurangnya pada kemampuan kita. Pada kesempatan ini bp. Soegeanto mengajak kita untuk berani mengangankan impian kita pada posisi setengah sadar. Baginya kekuatan bawah sadar justru akan membantu kita merealisasikan impian-impian kita.

Di akhir-akhir sessi, bp. Soegeanto mengajak para peserta yang rata-rata pegawai beberapa perusahaan untuk berani tampil beda dalam arti yang positif. Bersikap proaktif penuh inisiatif, mengantisipasi kebutuhan perusahaan, mementingkan kepentingan kelompok untuk tujuan baik bersama. Ketika diminta menggambar pemandangan berupa gunung, matahari, pohon, rumah jalan, petak sawah, akan menjadi seperti apakah gambar kita? Rata-rata peserta menggambar semua itu dengan pola yang sama. Hal positif adalah bahwa kita terbiasa mengikuti SOP walaupun berasal dari lingkungan dan kultur yang berbeda. Nah, gambar ini menginspirasi kita untuk mulai mencoba dengan cara lain, tampil beda.

Mini Workshop series edisi “Empowered Employee ini sangat dinamis”, dibawakan secara fun dan interaktif, banyak kegiatan kelompok yang mendukung pembelajaran sehingga lebih “nyantol”. Sangat memotivasi kami dan karyawan-karyawan kami….” begitulah kira-kira kata Helen Huang (global marketing), Yoice (owner PT. Karunia Promotion), Leonardi (es teller 77) dan Aida (ELT, PT. Prima Sarana) memberi kesan mewakili 22 peserta lainnya. Ya, memang karakter kelas MWS ini kuat sekali terutama pada kedalaman isi dan cara penyampaian para trainer yang atraktif yang notabene berlisensi dari MWS International.

Salam, Rudi Tamrin MWS Indonesia


Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
No tags yet.
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square